Sunday, October 19, 2025

Malin Kundang

 MALIN KUNDANG
- Saduran Cataleya Amira Yunanto

Pada zaman dahulu, di sebuah desa nelayan di Air Manis, Sumatra Barat, hiduplah satu keluarga nelayan. Karena kebutuhan keuangan keluarga, sang ayah akhirnya memutuskan untuk pergi merantau menyebrangi lautan.

Namun, sang ayah tidak pernah kembali ke kampung dan meninggalkan istrinya, Mande Rubayah. Sang istri kemudian membesarkan anak mereka, Malin, seorang diri. Oleh sang ibu, Malin sering dikundang-kundang (dibawa ke mana saja). Oleh karena itu, sang anak mendapat panggilan baru, Malin Kundang.

Malin tumbuh sebagai anak yang pintar, tapi sedikit nakal. Malin sering mengejar ayam dan memukul mereka dengan sapu. Suatu hari, ketika Malin sedang mengejar ayam, Malin terjatuh dan tangannya terbentur sebuah batu. Luka itu meninggalkan bekas di lengannya.

Beranjak dewasa, Malin merasa iba pada ibunya yang harus bersusah payah menafkahi mereka, sehingga berniat untuk merantau bersama sebuah kapal dagang. Ketika menceritakan tentang niatnya, sang ibu tidak mengizinkan Malin untuk pergi. Ibu Mande tidak rela ditinggal anak semata wayangnya. Ibu Mande juga takut Malin akan menjadi seperti ayahnya yang pergi dan tidak pernah kembali ke kampung.

Meski ditolak sang ibu, Malin tidak berhenti membujuknya. Melihat kegigihan Malin, Ibu Mande pun mengizinkannya pergi, meski dengan berat hati. Setelah meyakinkan ibunya bahwa dirinya akan baik-baik saja, Malin pun pamit dan meninggalkan Ibu Mande seorang diri di desa.

Ketika sedang berlayar dalam perantauannya, sebuah kejadian buruk menimpa kapal yang ditumpangi Malin sehingga ia terdampar di sebuah pantai. Warga desa di pantai tersebut menyambut dan membantu Malin untuk tinggal dan bekerja di sana.

Malin bekerja dengan sangat rajin mengolah tanah desa yang subur dan menjadi semakin sukses. Malin memiliki 100 orang pekerja dan sejumlah kapal dagang sendiri. Setelah berhasil menjadi orang kaya, Malin pun mempersunting anak seorang saudagar kaya.

Sementara itu, Ibu Mande tidak pernah mendapatkan kabar apapun dari Malin selepas kepergiannya. Selama bertahun-tahun, Ibu Mande hanya bisa memandangi laut sambil berdoa agar anaknya selamat dan mengirimkan kabar, atau bahkan kembali ke desa.

Setiap kali ada kapal besar yang bersandar di desa, Ibu Mande selalu bertanya kepada nakhoda dan awak kapal tentang anaknya. Namun, tidak pernah ada yang membawa kabar atau titipan dari Malin.

Namun pada suatu hari yang cerah, lingkungan yang awalnya damai pun menjadi rusuh. Apa akibatnya? "Malin!" "Malin apakah itu kamu?" Warga sekitar bertanya. Ternyata pemuda tampan itu adalah Malin, setelah bertahun-tahun berlayar kini Ia telah pulang. Tetapi, bedanya sekarang Ia sudah menjadi orang yang sukses, tampan, dan bahkan sudah mempunyai istri.

Tentu warga sekitar pun senang. Siapa juga yang tidak bakal senang dalam keadaan ini? Anak yang awalnya tidak memiliki apa-apa kini kembali membawa harta untuk di bagikan kepada warga. Mereka merayakan kepulangan Malin dengan meriah. Namun, di dalam isi hati Malin Ia belum juga tenang karena Ia belum bertemu dengan ibunya tercinta.

Setelah rangkaian kegiatan sudah selesai Malin dengan lelah bertanya kepada seorang teman lama, "Mas, Ibuku dimana? Saya belum melihatnya dari awal saya kembali" dengan bingung teman lama Malin pun menjawab, "Malin? Kamu belum di kasih tau? Ibu Mande sudah lama meninggal." Malin yang mendengar itu pun kaget. Mengapa tidak ada yang kasih tau saya? Pikirnya dalam hati.

Malin hanya bisa diam, "Apakah kamu bisa membawaku ke kuburannya?" Tanya malin dengan hati yang sedih. Selama perjalanan Ia hanya merasakan penyesalan. Sesampainya Ia datang temannya pun meninggalkannya untuk memberinya waktu untuk diri sendiri. Tepat di depan tempat Ibunya terletak Ia tidak dapat menahan air mata yang berlindang. "Ibu maafkan Malin, Malin terlambat pulang. Akhirnya Malin dapat ketenangan sudah tau Ibu dimana. Semoga Ibu disana tenang ya" Ucapnya dengan hati yang berat.

Saat ini Ia merasa seperti energinya terkuras. Ia ingin beristirahat namun, Ia tidak ingin meninggalkan sisi ibunya. "Malin, ayo bangun!"  Ternyata besok hari pun datang, tak terasa ternyata Ia tertidur di sisi ibunya. Malin pun terbangun dan Ia melihat sosok istrinya dengan ekspresi khawatir. "Malin! Kau tidak tau seberapa khawatirnya aku saat engkau kemarin tidak tidur di sisiku" Ucap istri Malin.

"Maafkan aku istriku tersayang" Sebut Malin, "Kemarin saya menjenguk kuburan Ibuku dan tidak sengaja tertidur" Jelas Malin. "Kalau gitu ayo siap-siap, kita bentar lagi ingin berjenjak pulang" Jawab istrinya dengan sabar. Tak terasa waktu mereka di kampung ini pun selesai. Sebelum Ia lanjut berlayar pulang Ia berpamitan kepada warga sekitar, dengan itu Malin pun pergi dengan hati yang tenang Ia berjanji akan kembali lagi kepada desa tersayang ini.

-TAMAT-

                                                                      PARAGRAF

Namun pada suatu hari yang cerah, lingkungan yang awalnya damai pun menjadi rusuh. Apa akibatnya? "Malin!" "Malin apakah itu kamu?" Warga sekitar bertanya. Ternyata pemuda tampan itu adalah Malin, setelah bertahun-tahun berlayar kini Ia telah pulang. Tetapi, bedanya sekarang Ia sudah menjadi orang yang sukses, tampan, dan bahkan sudah mempunyai istri.

                                                                KALIMAT UTAMA

Kalimat utama dari paragraf ini adalah “Ternyata pemuda tampan itu adalah Malin, setelah bertahun-tahun berlayar kini Ia telah pulang.”

                                                                    IDE POKOK

Malin pulang ke desa.

                                                     KONJUNGSI YANG DI PAKAI

Konjungsi yang di pakai adalah: Namun, tetapi, dan, yang.




Surat Pribadi -> rania latief

Jakarta, 26 Januari 2026 Gandaria Utara, Rumah Rania Untuk sahabat ku tersayang, Rania Latief Walaikumsalam Rania, Alhamdulillah aku dalam s...